Merupakan kehormatan tersendiri dapat menjadi bagian dari International Conference on Computer Science and Computational Intelligence (ICCSCI 2025) yang diselenggarakan oleh School of Computer Science, BINUS University. Tahun ini, ICCSCI diadakan di Semarang, Indonesia, dan menjadi ajang penting yang menyatukan para peneliti, akademisi, serta praktisi dari 16 negara, memperlihatkan peran konferensi ini sebagai wadah kolaborasi global dalam memajukan ilmu komputer dan kecerdasan komputasi.
Tahun ini, saya berperan sebagai salah satu keynote speaker bersama tiga profesor:
- Prof. Peter Rossmanith – RWTH Aachen University, Jerman
- Prof. Mhd. Reza M. I. Pulungan – Universitas Gadjah Mada, Indonesia
- Prof. Eko Sediyono – Universitas Kristen Satya Wacana, Indonesia
Konferensi ini juga menghadirkan Technical Workshop yang dibawakan oleh Dr. Nur Afny Catur Andryani, yang menyoroti bagaimana teknologi dapat berperan dalam memperluas akses kesehatan secara global. Rangkaian kegiatan ini menunjukkan semangat ICCSCI dalam mendorong kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin, serta menghadirkan solusi teknologi yang berorientasi pada kemanusiaan.
Dalam kesempatan ini, saya membawakan keynote berjudul “Seriously not Serius: What Sarcasm Tells Us About Language and Intelligence.” Topik ini berangkat dari satu pertanyaan penting: bagaimana mesin memahami makna jika kata-kata yang digunakan manusia sering kali bermakna ganda? Dalam Natural Language Processing (NLP), sarkasme menjadi fenomena yang menarik sekaligus menantang karena di balik kata yang terdengar positif, sering tersembunyi makna yang berlawanan.

Ketika seseorang mengatakan “great” dengan nada kesal atau “terima kasih banyak” dengan nada sarkastik, manusia bisa menangkap maksud sebenarnya melalui konteks sosial, ekspresi wajah, atau intonasi suara. Namun bagi mesin, lapisan makna semacam ini sulit diurai. AI membaca kata, tetapi belum mampu sepenuhnya memahami niat. Di sinilah letak keindahan sekaligus kompleksitas komunikasi manusia: makna tidak hanya lahir dari teks, tetapi juga dari konteks, emosi, dan pengalaman. Kemampuan memahami sarkasme menjadi ujian tentang seberapa jauh kita dapat mengajarkan mesin untuk mengerti manusia, bukan hanya memproses data.
Di era di mana kecerdasan buatan terus berkembang, penelitian tentang sarkasme membantu kita melihat batas-batas pemahaman mesin. Ini bukan sekadar tentang melatih model yang lebih akurat, tetapi tentang memahami esensi kecerdasan itu sendiri — bahwa understanding jauh lebih kompleks daripada recognizing patterns. Konferensi ICCSCI 2025 menjadi lebih dari sekadar pertemuan akademik, melainkan ruang bagi ide, dialog, dan inspirasi. Tempat di mana para peneliti dari berbagai negara bertukar pandangan tentang masa depan teknologi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berempati dan beretika.

#ICCSCI2025 #ArtificialIntelligence #NaturalLanguageProcessing #ComputationalLinguistics #EthicalAI #BINUSUniversity #SchoolOfComputerScience
