Kehadiran Generative AI semakin mengubah lanskap pengambilan keputusan dan inovasi bisnis. Perspektif ini menjadi landasan dalam sesi “Leading with Generative AI: Business Innovation and Strategic Decision-Making” bersama Singapore Management University (SMU) Executive Development pada 24 Januari 2026. Dalam kesempatan ini, saya hadir sebagai narasumber untuk berbagi pandangan mengenai bagaimana Generative AI perlu ditempatkan dalam kerangka kepemimpinan strategis, bukan semata sebagai inisiatif adopsi teknologi.
Dalam sesi tersebut, dibahas pergeseran mendasar dari AI tradisional berbasis aturan menuju Generative AI yang mampu mendukung analisis, penalaran, dan interaksi alami. Dari sudut pandang anggaran dan nilai bisnis, organisasi yang tidak memanfaatkan AI berisiko menghadapi kenaikan biaya operasional seiring skala, ketergantungan tinggi pada tenaga manual, serta potensi human error yang semakin sulit ditekan. Sebaliknya, adopsi AI memungkinkan biaya bertumbuh lebih lambat dibandingkan skala bisnis, meningkatkan produktivitas melalui human augmentation, dan menurunkan risiko dengan menjadikan AI sebagai asisten pengambilan keputusan.

Potensi ekonomi Generative AI terbuka luas lintas industri, mulai dari peluang peningkatan produktivitas pekerja berbasis pengetahuan, percepatan siklus proses bisnis, hingga pengurangan biaya akibat kesalahan dan pekerjaan ulang pada proses yang kompleks. Namun, potensi ini hanya dapat direalisasikan apabila pemimpin mampu memahami dan mengelola risiko strategis yang menyertainya—seperti ketergantungan berlebihan pada output AI, potensi kebocoran data sensitif, penguatan bias, serta penggunaan AI tanpa kerangka tata kelola yang jelas.
Diskusi bersama para pemimpin senior juga menempatkan AI dalam konteks yang lebih luas, mencakup kesiapan organisasi, dinamika regulasi AI nasional, serta pembelajaran dari kerangka hukum Generative AI di Korea Selatan. Risiko nyata—termasuk kasus penipuan berbasis deepfake yang melibatkan eksekutif senior di berbagai negara—menjadi pengingat bahwa kepemimpinan AI yang efektif berada di persimpangan inovasi, tata kelola, dan kesadaran risiko.
Karena itu, langkah awal pemimpin strategis bukanlah mengejar skala besar, melainkan mengidentifikasi use case dengan dampak bisnis tertinggi, memperkuat kapabilitas kepemimpinan—bukan hanya tim teknis—serta memulai dari skala kecil untuk belajar cepat dan berkembang secara bertahap. Keunggulan kompetitif di era Generative AI pada akhirnya ditentukan oleh kematangan kepemimpinan dalam mengarahkan dan berevolusi bersama teknologi.

#GenerativeAI #Leadership #StrategicDecisionMaking #HumanCenteredAI #AITransformation
