Dialog Ilmiah dan Perspektif Interdisipliner dalam Riset AI

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin melampaui batas disiplin teknis dan memasuki ranah sosial, budaya, serta komunikasi. Dalam konteks inilah, penelitian interdisipliner memegang peran penting untuk memahami bagaimana teknologi berinteraksi dengan manusia dan masyarakat secara lebih utuh.

Kesempatan untuk berperan sebagai penguji disertasi pada Program Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid Jakarta menghadirkan ruang dialog ilmiah yang kaya. Disertasi yang diuji menyoroti bagaimana teknologi wearable yang didukung AI bersinggungan dengan identitas, praktik komunikasi, dan dinamika generasi di Indonesia, sebuah tema yang menunjukkan bahwa AI tidak dapat dipahami hanya dari sudut pandang teknologi semata.

Diskusi akademik dalam forum ini memperlihatkan bagaimana teknologi wearable membentuk cara individu berinteraksi, mengekspresikan diri, dan membangun makna dalam kehidupan sehari-hari. Ketika AI terintegrasi dengan aktivitas manusia, pertanyaan tentang identitas, etika, dan relasi sosial menjadi semakin relevan untuk dikaji secara mendalam.

Peran penguji dalam proses doktoral bukan sekadar menilai ketepatan metodologi atau kontribusi keilmuan, tetapi juga mendorong kedalaman refleksi dan keluasan perspektif penelitian. Dialog yang terbangun menegaskan pentingnya pendekatan lintas disiplin, menghubungkan teknologi, komunikasi, dan studi sosial, untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap dampak AI di masyarakat.

Pada akhirnya, riset AI yang bermakna membutuhkan keterbukaan terhadap berbagai sudut pandang. Melalui penelitian interdisipliner, pendidikan doktoral dapat melahirkan pemikir yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga peka terhadap konteks sosial dan budaya. Pendekatan inilah yang akan memperkaya wacana AI dan memastikan bahwa perkembangan teknologi berjalan seiring dengan pemahaman yang mendalam tentang manusia.

#ArtificialIntelligence #InterdisciplinaryResearch #HigherEducation #DoctoralResearch