Kecerdasan buatan (AI) telah hadir dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari hiburan dan media sosial, transportasi dan navigasi, hingga e-commerce dan periklanan digital. Perkembangan ini menjadi konteks penting dalam sesi “Decision Intelligence: Menguatkan Pengambilan Keputusan Eksekutif dengan AI” yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementrian Keuangan pada 9 Desember 2025. Sesi ini mengajak para pemimpin di lingkungan BPPK Kementrian Keuangan untuk melihat AI bukan sekadar teknologi pendukung, melainkan fondasi baru dalam pengambilan keputusan berbasis data.
Dalam sesi tersebut, saya menyoroti bahwa adopsi AI secara global menunjukkan percepatan signifikan sebagai contoh di Inggris, jumlah perusahaan AI aktif meningkat lebih dari 600% dalam satu dekade. Pertanyaan kuncinya kemudian: apa relevansinya bagi BPPK? Jawabannya terletak pada peluang transformasi pembelajaran berbasis data dan automasi. Jika platform hiburan mampu memprediksi preferensi tontonan, dan e-commerce merekomendasikan produk, maka institusi pelatihan dapat memprediksi kebutuhan pengembangan kompetensi serta merekomendasikan learning path yang tepat bagi pegawai.

AI membuka peluang nyata bagi BPPK untuk mengembangkan adaptive learning, automasi administratif, training recommendation system, dan competency analytics. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran ASN secara lebih personal, efisien, dan terukur, menjadikan keputusan pengembangan talenta lebih presisi dan berdampak.
Namun, pemanfaatan AI juga menuntut kewaspadaan. Risiko hallucination menegaskan pentingnya verifikasi; privasi data mengharuskan kehati-hatian terhadap informasi sensitif; potensi bias menuntut pengawasan manusia; dan over-reliance perlu dihindari. AI harus diposisikan sebagai alat bantu pengambilan Keputusan, bukan pengganti keputusan itu sendiri.
Pembelajaran lintas generasi juga berperan penting. Generasi digital natives telah terbiasa berkolaborasi dengan AI; pengalaman mereka dapat menjadi sumber pembelajaran bagi organisasi. Dengan mendorong kolaborasi lintas generasi, institusi dapat membangun budaya decision intelligence yang matang, menggabungkan kecanggihan teknologi dengan kebijaksanaan manusia.
AI membuka peluang untuk mentransformasikan pembelajaran ASN dari pendekatan pelatihan konvensional menuju sistem pengembangan kompetensi yang adaptif dan berbasis data. Dengan menempatkan AI sebagai alat bantu keputusan, bukan sebagai pengganti keputusan, BPPK dapat memperkuat presisi, akuntabilitas, dan dampak kebijakan pengembangan talenta di lingkungan Kementerian Keuangan.

#DecisionIntelligence #ArtificialIntelligence #HumanCenteredAI #Leadership #TalentTransformation #BINUSUniversity #SchoolOfComputerScience
