Monthly Archives: February 2014

ICAART2014, Angers, France… I’ll be there!

Berangkat dari announcement bahwa akan ada konferensi internasional yang membahas mengenai Intelligent Agent dan Artificial Intelligence di website http://icaart.org/, saya meletakkan dalam buku mimpi untuk bisa hadir disana. Dengan motivasi bahwa saya bisa bertukar pikiran dan brainstorming dengan para peneliti di bidang tersebut dari seluruh dunia. Hal seperti ini sangat membantu untuk meningkatkan pengetahuan saya di bidang tersebut. Lalu kenapa di Perancis, pastinya kita semua sudah tahu bahwa negeri tersebut merupakan negeri yang tersohor dengan segala keindahan dari yang ada di dalamnya. Oh ya, terkait isu dengan konferensi-konferensi “abal-abal”, saya juga mengkonsultasikan dengan beberapa dosen “senior”, dan mereka merekomendasikan konferensi ini sebagai konferensi yang baik.

icaart2014 illbethere

Gambar di atas di edit oleh Nila (teman satu komunitas di gereja) yang bisa menjadi dokumentasi akan apa yang hendak saya capai di tahun 2014.

Mimpi tanpa tindakan apa-apa adalah nol besar, saya percaya akan hal tersebut. Oleh karena itu, saya mulai mengajak beberapa mahasiswa saya yang kebetulan sedang mengerjakan skripsi untuk mengerjakan research yang secara kualitasnya cukup memadai untuk dipublikasikan secara internasional. By the way, pada waktu itu saya mengesampingkan isu mengenai pendanaan, bagaimana paper ini bisa terpublikasikan disana, transportasi kesana, akomodasi dll. Saya sama sekali tidak melihat hal itu terlebih dahulu.

Adalah Polim Kusuma, Garry Wong, dan Silviana Saputra yang merupakan mahasiswa yang bersama-sama mengerjakan penelitian ini. Tentunya peran saya adalah sebagai dosen pembimbing pada skripsi mereka. Mereka bertiga sedikit mencuri start untuk pengerjaan skripsi, karena ketika periode semester Ganjil 2013/2014 belum dimulai, mereka sudah mengerjakan penelitian ini. Seperti pada gambar di atas, submission paper untuk conference tersebut paling lambat adalah pada tanggal 24 September 2013. Padahal, semester Ganjil baru saja dimulai 23 September 2013. Jadi, paper harus sudah selesai paling tidak sebelum perkuliahan Semester Ganjil dimulai. Ketika saya ceritakan hal ini kepada ketiga mahasiswa saya ini, mereka tetap dengan semangat mau menerima tantangan ini. Alhasil tepat beberapa hari sebelum tanggal deadline tersebut, paper pun berhasil diselesaikan. Paper tersebut dibuat dengan judul “Predictive Text System for Bahasa With Frequency, N-gram, Probability Table and Syntactic Using Grammar”.

Submission saya lakukan pada H-1 due date submission paper. Ternyata, setelah saya cek kembali beberapa hari setelah due date submission paper tersebut, pengumpulan di extend selama 1 hingga 2 minggu. Tapi ya sudahlah yang penting sudah submit. Polim, Garry, dan Silviana pun melanjutkan karya mereka di skripsi, mereka tinggal memoles hal-hal yang masih kurang dan melengkapi tulisan demi tulisan yang menjadi syarat sebuah skripsi. Sedangkan untuk pengumuman diterima atau tidaknya paper kami, masih lama, yaitu tanggal 13 Desember 2013.

Pada tanggal 21 November 2013, ada email masuk dari sekretariat ICAART ke account saya. Isinya adalah seperti gambar di bawah ini:

icaart2014 conditionally accepted

Saya pikir sudah pengumuman final bahwa paper kami diterima, ternyata email tersebut hanya memberitahukan bahwa paper dalam status “conditionally accepted”. Sehingga artinya bahwa paper ini “lolos tahap pertama”. Ada beberapa perbaikan yang disampaikan oleh reviewer, dalam waktu beberapa hari kami langsung kembali submit hasil review-nya, karena kebetulan tidak ada perbaikan major yang harus dilakukan.

Tanggal 16 Desember 2013 (lewat 3 hari dari tanggal seharusnya), ada email masuk lagi dari sekretariat ICAART2014 sebagai berikut:

icaart2014 accepted

 

 

 

 

 

Hal ini artinya, paper kami sudah diterima untuk dipublikasikan di Proceeding ICAART2014 sekaligus undangan untuk mempresentasikan karya ini di Perancis. “Yeayyy!!!”, seruan ketika saya ceritakan hal ini kepada para bimbingan saya yang mengerjakan penelitian ini bersama-sama.

Jegerrrrr, tiba-tiba saya panik mengenai pendanaan untuk registrasi paper, transportasi kesana dll. Karena tahun sebelumnya, saya mendapat pendanaan untuk conference di Thailand dari DIKTI (Dinas Pendidikan Tinggi), maka saya berpikir bahwa saya bisa melakukan hal yang sama untuk tahun ini. Namun ternyata DIKTI belum membuka pendaftaran untuk pengajuan proposal anggaran, karena anggaran tahun 2014 masih belum disahkan. Kemudian untuk pengajuan anggaran ke Universitas, hanya terbatas sampai Asia saja. Pada saat itu, satu-satunya bantuan dana yang rutin bisa diperoleh oleh dosen yang terkategori masih junior seperti saya hanyalah Bantuan Seminar Luar Negeri DIKTI. Akhirnya, saya terus mengecek website tersebut setiap hari, siapa tahu pada hari tertentu saat saya cek, proposal anggaran sudah bisa dimasukkan. Ternyata hingga akhir tahun 2013, belum ada tanda-tanda bahwa pengajuan proposal anggaran BSLN (Bantuan Seminar Luar Negeri) akan dibuka.

Saya mengambil inisiatif untuk mendatangi kantor DIKTI perihal bantuan dana ini. Saya hendak menanyakan kapan pengajuan akan dibuka. Sesampai di kantor DIKTI, saya berdiskusi dengan salah satu pegawai bagian pengurusan BSLN. Ternyata, BSLN baru akan dibuka antara awal Februari hingga akhir Maret. Pihak DIKTI sendiri belum bisa memastikan kapan bantuan tersebut akan dibuka, karena masih menunggu approval anggaran dari Departemen Keuangan yang kapan waktunya juga masih belum terdefinisi. Pasrah oh pasrah, saya hanya bisa melihat website DIKTI hari demi hari, siapa tahu keajaiban bisa terjadi.

Berdoa, berdoa, dan berdoa. Saya hanya bisa berdoa supaya tetap bisa berangkat. Saya teringat cerita dari beberapa teman mengenai conference khususnya di Eropa. Pihak penyelenggara bisa memasukkan ke dalam “black list” untuk penulis yang tidak hadir untuk mempresentasikan papernya. Saya semakin kuatir, karena saya membawa nama Universitas, dan negara juga. Dan apa yang bisa saya lakukan? Yup! hanya berdoa, cek website, berdoa, cek website, berdoa, cek website….

Di sisi lain, aktivitas saya sebagai dosen masih terus berlangsung. Pada hari itu adalah pertemuan terakhir Skripsi Kelas Intelligent System. Karena pertemuan terakhir, jadwal bimbingan dari pukul 1 siang hingga 5 sore tidak mencukupi. Saya melanjutkan aktivitas bimbingan hingga pukul 8 malam. Setelah selesai, salah satu anak bimbingan saya menanyakan mengenai keberangkatan saya ke Prancis. Mahasiswa ini bernama Vivi, tidak seperti mahasiswa lainnya yang berkelompok masing-masing bertiga, dia hanya sendiri. By the way, kemarin anak ini baru sidang, dan hasil skripsi dia adalah A.

vivi

 

 

 

 

 

 

 

Kembali ke lanjutan dari cerita di atas. Saya mengatakan kepada dia sudah hopeless, tidak ada support dana untuk saya bisa berangkat. Vivi pun merekomendasikan untuk mencoba meminta bantuan ke organisasi-organisasi non-profit, karena biasanya ada dana khusus yang mereka anggarkan untuk CSR. Vivi mengusulkan untuk mencoba ke Kedutaan Besar. Pada waktu itu, kebetulan ada Muhsin (teman seprofesi), saya bertanya kepada dia, gimana Sin? Muhsin menjawab dengan singkat, “Coba saja Win, nothing to lose”.

Karena hari itu sudah malam, saya pulang, kemudian di rumah saya mulai mencari alamat website Kedutaan Besar Perancis di Indonesia. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ditemukan juga contact person untuk kerjasama ilmiah universitas. Saya segera merancang email untuk dikirimkan ke pihak tersebut. Saya menulis dengan sangat hati-hati, khususnya dalam penggunaan bahasa Inggris yang formal dan maksud serta tujuan saya yang tercantum disitu. Sent! Nothing to lose! Jadi, saya tidak berharap apapun mengenai akibat dari pengiriman email tersebut. Suprisingly, empat hari kemudian, pada saat saya sedang duduk di shuttle dari Alam Sutera menuju Kemanggisan, saya melihat di gadget, email tersebut langsung mendapatkan tanggapan positif. Kedubes Prancis bersedia membantu untuk biaya transportasi dan visa menuju ke Prancis.

frenchembassy accepted

 

 

 

 

 

 

 

Setelah melalui proses yang cukup panjang di internal kampus, maka ditentukanlah tanggal penyerahan tiket yang sedianya dihadiri oleh pak rektor namun diwakili oleh salah satu direktur dari kampus saya. Pada hari penyerahan tiket, saya ditemani oleh dekan, ketua jurusan, direktur dan satu stafnya berangkat menuju ke Kedutaan Besar Perancis di Menara BCA Lantai 40, Thamrin, Jakarta Pusat. Setelah tiba disana, kami disambut oleh staf yang membantu saya untuk memesankan tiket yaitu Ms. Apreita. Setelah semua yang mengikuti meeting serta serah terima tiket lengkap, kami dipersilakan untuk masuk ke ruang meeting.

Pertemuan berlangsung selama 1 jam, pihak Kedutaan Besar Prancis diwakili oleh Dr. Bertrand de Hartingh, Mr. Joel Le Bail, Ms. Marion Noirot, Ms. Flora Stienne, Ibu Arie Soedibjo, dan Ms. Apreita Putri. Banyak peluang kerjasama yang bisa dibangun diantaranya adalah studi lanjut S1, S2, dan S3 ke Perancis, pertukaran pelajar ke Perancis, dan pengiriman dosen-dosen untuk bereksplorasi lebih jauh dalam bidang keilmuan masing-masing. Dan pertemuan diakhiri dengan penyerahan tiket pesawat dan kereta Paris-Angers serta Angers-Paris.

derwin-paris-2

Perjalanan panjang untuk bisa berangkat ke konferensi internasional ICAART2014 pun selesai. Pendanaan untuk transportasi dibantu dari Kedutaan Besar Perancis dan dana lain-lain dibantu oleh pihak kampus. Setelah melalui galau dan bingung bagaimana bisa disana, semua jalan sudah dibukakan oleh TUHAN.

Kalau bukan karena TUHAN, siapa lagi yang bisa merancang skenario pembuatan paper dan pendanaan seajaib ini? Thanks God. Semoga banyak ilmu dan pengalaman baru yang saya bisa temui selama di Perancis nanti.

France, I’ll be there!
Paris, I’ll be there!
Angers, I’ll be there!