Behind the Scene to be a Lecturer

Beberapa hari yang lalu muncul sebuah pemikiran, mengapa saya menjadi seorang dosen. Oleh karena itu, saya kembali membuka beberapa note yang pernah saya tuliskan beberapa tahun yang lalu. Note tersebut saya temukan di blog saya yang lama.

Berawal dari mimpi saya ketika di bangku kuliah, tepatnya di semester 3 atau 4. Mungkin tidak banyak orang yang tahu akan hal ini. Saya mempunyai tekad tersendiri untuk melanjutkan studi saya hingga jenjang S2. Well, sepertinya hal itu terlintas begitu saja di kepala saya. Namun, tekad itu tidak kunjung hilang, terus terngiang-ngiang di dalam hati. Sehingga yang ada di pikiran saya adalah, setelah selesai jenjang S1, saya harus melanjutkan studiku ke S2. Masih teringat bahwa dulu saya berkeinginan untuk melanjutkan di luar negeri.

Singkat cerita, setelah menyelesaikan studi sarjana, saya bekerja. Waktu itu saya mencatat di dalam “My Dream Book” bahwa setahun setelah bekerja, saya harus mengambil S2. Dan ketika bekerja inilah, tiba-tiba muncul di pikiran saya keinginan untuk menjadi seorang dosen. Motivasi dasarnya adalah supaya saya bisa banyak terlibat di tengah-tengah anak-anak muda dan membantu mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah perkuliahan dengan baik dan benar. Hal ini terus mengusik kehidupan saya selama saya bekerja di kantor. Kemudian, saya membicarakan hal mengenai studi lanjut ke jenjang S2 ke orang tua, dan mereka menjawab dengan ringan, “Ya udah kalo memang win mau S2, pakai uang sendiri ya”. Jawaban yang cukup membuat shocked, namun memang harus dijalani.

Saya melakukan pencarian beasiswa, khususnya untuk ke Singapore dan Australia, karena saya menimbang-nimbang perihal jarak yang tidak terlalu jauh. Sebenarnya bukan susah untuk mencari beasiswa tersebut, tetapi saya sendiri yang agak ogah-ogahan untuk tinggal di luar negeri. Belum ada kesediaan secara penuh untuk mau tinggal di luar negeri. Akhirnya setelah berkali-kali mengikuti pameran pendidikan, saya mulai survey ke beberapa universitas di Jakarta yang memberikan program studi Magister untuk program Teknik Informatika. Ada 2 tempat dengan nama Universitas yang cukup besar di Jakarta, UI (yang sudah cukup lama memiliki program ini) dan BINUS (yang notabene masi merupakan program baru). Setelah menimbang masalah tempat, jarak, waktu, biaya, dan lain-lain, saya memutuskan untuk mengambil S2 di BINUS yang adalah almamater  S1.

Orang tua dan keluarga cukup dikejutkan dengan keputusan saya untuk resign dari kantor karena melanjutkan studi. Penghasilan saya peroleh dari mengajar anak-anak les secara private ke rumah mereka. Hal ini sudah saya jalani sejak semester 2. Pengharapannya adalah supaya hasil studi S2-ku bisa maksimal. Saya menuliskan dan terus membawa ke dalam doa setiap hal yang saya inginkan untuk bisa dicapai, dan terbukti bahwa TUHAN menyertai langkah-langkah saya. Banyak fakta unik terjadi ketika saya menjalani semua hal yang saya jelaskan di atas, diantaranya adalah:

1. LAPTOP
Saya sempat berpikir bahwa saya membutuhkan laptop untuk perkuliahan saya. Hal itu hanya saya tuangkan dalam bentuk gumaman yang mana hanya TUHAN yang mengetahuinya. Namun hal itu tidak saya doakan secara serius, saya berpikir keras untuk biaya hidup bulanan saja selama studi S2.
God’s Miraculous Way:
Tepat pada hari Valentine yang bersamaan dengan hari Imlek, 14 Februari 2010, saya bertamu ke rumah paman, semua keluarga lainnya sudah pulang ke rumah untuk merayakan Imlek.  Tak lama kemudian, paman saya berkata, “Win, kamu pake laptop nggak sekarang?” Saya menjawab, “Cuma pake PC, belum pake laptop”. “Nih paman ada laptop nganggur, kamu bawa aja”. “Ambil aja sana di belakang, dilhat dulu barangnya masih bagus atau nggak, paman cuma pake 1 atau 2 minggu, terus gak pernah di pake lagi”. Saat saya melihat laptop itu, ternyata masi bagus dan tidak perlu ada yang diperbaiki. Thanks God for the favor in giving me the laptop.
http://derwinsuhartono.blog.binusian.org/2010/02/16/14-februari-2010-i-am-his-valentine/

2. STUDI S2
Sudah menjadi keputusan bahwa 1 tahun setelah bekerja, saya akan mengambil S2. Kontrak kerja di perusahaan berakhir pada bulan Mei. Yang artinya 2 bulan kemudian perkuliahan S2 angkatan yang baru di mulai. Saya sudah mendaftar sejak bulan Mei awal.
God’s Miraculous Way:
Beberapa hari setelah saya mendaftar di S2 MTI BINUS, saya mendapat info melalui sms dari BINUS bahwa sekitar 160 mahasiswa terpilih lulusan dari S1 jurusan TI angkatan 2005 dan 2006 mendapat kesempatan untuk mengambil kuliah S2 MTI dengan keringanan biaya kuliah sebesar 10juta, dan lama kuliah di potong 4 bulan sehingga hanya 1 tahun kuliah untuk mendapatkan gelar MTI. Hal ini berarti ada keringanan biaya dan waktu yang diberikan kepada saya. Dan sampai saat ini, belum pernah ada lagi program Fasttrack tersebut. Angkatan saya adalah yang pertama dan mungkin yang terakhir untuk program MTI Fasttrack. It is special, isn’t it?

3. PENGHASILAN
Saya sudah mengambil ancang-ancang persiapan menambal penghasilanku karena sudah tidak bekerja di kantor lagi. Saya menyebarkan brosur dan info untuk les private. Dengan bantuan dari teman-teman terdekat, saya memperoleh beberapa anak les. Namun beberapa diantaranya saya berikan ke beberapa teman yang memang juga berkeinginan untuk mengambil kerja sampingan sebagai guru les.
God’s Miraculous Way:
Seiring berjalannya waktu, sepupu dari anak yang saya sedang ajar ini ternyata sedang mencari guru les. Singkat cerita, mama dari sepupu anak ini meminta saya untuk mengajar dengan skema homeschooling, yaitu belajar sendiri di rumah, tanpa ke sekolah. Dia meminta saya untuk mengajar di pagi hari, setiap hari, Senin-Jumat. Dan hal yang mengejutkannya, penghasilan saya dari 2 anak les ini saja sudah melebihi gaji terakhir saya di kantor. Thanks God.

4. HARI TERAKHIR DI KANTOR
Beberapa hari sebelum saya resign dari kantor, saya mulai gelisah mengenai penghasilan. Untuk bisa membayar biaya studi S2, saya belum mendapat penghasilan yang mana harus 2 kali lipat dari gaji terakhir. Di tengah-tengah kekuatiran saya yang mulai berlebihan, ada 1 orang sahabat yang berkata “Udalah win, kamu nih gak percaya banget, pasti disediain kok ama Tuhan, ngapain kuatir berlebihan! Ga percaya ama Tuhanmu?”. Itu cukup menghentak hati saya, apakah benar saya meragukan Tuhan saya?
God’s Miraculous Way:
Bertepatan dengan hari H aku resign, ada 2 temen kantor yang memberikan kepada saya 2 anak untuk les private. Saya terdiam dan memang benar, pertolongan TUHAN selalu tepat waktu.
Cerita tidak hanya berakhir disitu, siangnya ada telepon dari Astra International untuk  interview. Padahal sebenarnya saya tidak melamar kesana. Interview dilakukan tepat H+1 setelah saya resign. What a great timing! Setelah di telusuri darimana Astra bisa mendapatkan CV saya, ternyata ada sedikit kesalahan mekanisme yang membuat saya dipanggil oleh Astra.
Walaupun hasil akhirnya adalah diterima, saya tetap menolak tawaran yang ada. Dengan perkuliahan S2 dan semua hal yang sudah saya persiapkan untuk kuliah, tentu saya tidak akan bisa lembur, dan pasti tidak bisa memberikan totalitas.

5. KELUARGA
Setelah saya mendapatkan nomor 3 dan 4, saya menelepon keluarga di rumah untuk memberikan kabar.
God’s Miraculous Way:
Dan tak disangka, usaha Papa sedang ramai-ramainya. Saya sangat senang untuk mendengar kabar itu. Dan juga, dari kerjaan adik saya sedang dalam proses menuai dan cukup banyak.

6. DOSEN

Untuk yang ini tidak bisa diceritakan secara detail. Intinya adalah, pada Semester Ganjil setelah liburan 2 bulan ini, saya sudah diberikan jadwal mengajar sebagai dosen di BINUS. Padahal, sebelumnya saya sudah hampir tertunda untuk bisa jadi dosen.
God’s Miraculous Way:
Ternyata tahun ini sudah bisa langsung masuk menjadi salah satu jajaran dosen di BiNus. Ini hal sudah saya mimpikan sejak dulu, menjadi dosen, bisa berbagi hidup dan ilmu kepada generasi muda saat ini. Dan setelah menjalaninya, memang ada pula beberapa benefit ketika masuk sebagai dosen di BINUS.

Tidak ada sedikitpun maksud untuk menyombongkan apa yang saya capai. Saya hanya ingin berbagi cerita bahwa penyertaan Yang Maha Kuasa selalu ada. Bagian kita adalah melakukan yang terbaik.

Have a nice day! 😀

Reposted and revised from: http://derwinsuhartono.blog.binusian.org/2010/06/12/hes-already-provided/

One thought on “Behind the Scene to be a Lecturer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *