Menghargai Waktu Orang Lain

Saya mengamini bahwa waktu merupakan suatu hal yang sangat berharga, karena waktu tidak bisa diulang.

Seringkali banyak orang lupa untuk menghargai waktu orang lain. Saya pribadi pun sering merasakannya. Namun, di tulisan kali ini, saya tidak membahas tentang bagaimana saya mengalami bahwa waktu saya tidak dihargai. Saya hanya ingin mencoba untuk sekedar berbagi contoh-contoh kecil yang kebetulan sempat saya lakukan untuk menghargai waktu orang lain.

Baru-baru ini, saya mengalami 3 kejadian ini di bawah ini. Yang saya lakukan ini dilandasi pemikiran bahwa saya harus menghargai waktu orang lain. Semoga cerita kecil ini bisa bermanfaat.

  1. Kisah Bang Ojol

Beberapa hari yang lalu, saya memesan martabak telor menggunakan aplikasi ojek online. Karena saya kurang paham martabak yang enak di Jakarta ini dimana aja, saya search kata “martabak” di aplikasi, dan saya pilih yang jaraknya paling dekat. Eh, kebetulan lagi ada diskon 50% (yeay!!), bayarnya cuma separo harga!! Sambil senyum sendiri (agak gak jelas sih), saya pesan deh martabaknya. Setelahnya, saya tunggu, tapi kok sampe setelah sekitar 45 menit, saya lihat di map, kenapa nih ojol belum juga bergerak.

Saya chat si ojol, “mas, masih aman?”

Si ojol menjawab, “sebentar lagi selesai pak”

Saya jawab, “ok mas, maaf ya mas jadi kelamaan disitu, nanti saya tambahin ya nominalnya”

Si ojol nggak menjawab, saya lihat di map, ternyata si ojol sudah mulai bergerak. Sekitar 20 menit kemudian, si ojol sudah sampai. Saya keluar dari ruangan dan langsung ambil orderan, lalu saya kasi tip karena kerelaan si bang ojol menunggu selama hampir 1 jam.

Si ojol kaget, “duh kak ini banyak banget”

Saya jawab, “gpp mas, kan mas udah mau nungguin, pagi-pagi 1 jam”

Dia nimpalin lagi, “tapi kak, ini kebanyakan”

Saya jawab, sambil nepok pundak masnya, “dah gpp mas, anggep aja rejeki”

“Duh makasi banget ya kak.”

“Iya mas, sama2.”

Sebenarnya, saya bukan orang yang pro untuk bikin pekerja “tuman” karena ketagihan dengan uang tip. Kali ini, saya hanya berusaha menghargai waktu yang si ojol berikan untuk mengantri demi martabak. Padahal jika si ojol ini cancel pesanan saya dan terima order yang lain, mungkin dia bisa lebih produktif. Siapa yang tau kan?

Btw, martabaknya enak, meskipun pesennya ngacak, ngga pake referensi 🤣

2.  Mahasiswa Bimbingan

Ceritanya hari ini sudah janjian bimbingan perdana sama 1 kelompok bimbingan semester genap 19-20, jam 2 siang di Kemanggisan. Saya sudah standby dari jam 1.30. Lalu, tidak lama kemudian salah satu mahasiswa info ke saya bahwa mereka semua akan terlambat karena banyak jalanan yang ditutup karena ada genangan (a.k.a. banjir), jadi kemungkinan jam 2.30 baru sampai. Saya kaget, duh berapa lama lagi ini saya harus menunggu. Saya mau batalkan, tapi kok nggak fair, karena mahasiswa ini terlambat bukan karena disengaja tapi karena ada banjir dimana-mana. Ternyata, mereka ber-3 adalah mahasiswa Alam Sutera (domisili mereka pun di Tangerang). Setelah sejenak menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk minta mereka balik saja ke kampus Alsut, saya saja yang ke Alsut, tidak perlu mereka yang ke Kemanggisan (kebetulan rumah saya juga dekat area sana). Singkat cerita, bimbingan pun dilakukan di kampus Alsut jam 3.10, sampai selesai sekitar pukul 4. Tentunya jika saya tetap menunggu mahasiswa di Kemanggisan, bisa jadi agenda akan mundur dan banyak waktu akan terbuang.

Pada kejadian ini, saya mencoba menghargai waktu yang sudah mahasiswa sediakan untuk bimbingan pukul 2 s.d. 3. Daripada waktu terbuang untuk bermacet ria di jalan Alsut-Kemanggisan, saya efisienkan waktu para mahasiswa dengan saya yang ke kampus Alsut.

Btw, doa saya, semoga 3 mahasiswa ini nggak syok dengan aturan main bimbingan yang saya sampaikan tadi untuk 1 semester ke depan 😅

3.   Bimbingan Skripsi Jam 7 Pagi

Kondisi kurikulum yang digunakan bahwa mahasiswa wajib enrichment (magang) 1 tahun terakhir, membuat waktu bimbingan skripsi harus dilakukan di luar jam kerja. Berbeda dengan beberapa dosen lain yang memilih waktu bimbingan setelah jam kerja, saya memilih untuk bimbingan dilakukan jam 7 pagi sampai jam 8. Resiko dengan pilihan waktu itu adalah saya juga harus sudah sampai di kampus sebelum jam 7. Kondisi traffic pagi hari dari wilayah Tangerang ke Jakarta selalu macet, kecuali berangkat dari rumah jam 5.30 (durasi 40 menit). Dulu, saya pernah berangkat jam 6 pagi, tapi ternyata baru bisa sampai sekitar jam 7.15 (durasi 60-75 menit), yang membuat 15 menit milik mahasiswa terbuang karena harus menunggu saya. Setelah beberapa kali kondisi serupa terus terjadi, saya memutuskan untuk berangkat pukul 5.30 supaya tidak terlambat sampai kampus. Tapi, ini membuat saya sudah di kampus jam 6.10 (masih 50 menit menuju jam 7). But, it is totally fine!

Dalam hal ini, saya harus berangkat lebih pagi lagi, dan menunggu di kampus sekian lama. Namun, saya berusaha menghargai waktu mahasiswa untuk bisa berdiskusi untuk bimbingan skripsi.

Btw, saya jadi kepikiran apa enaknya bimbingan jam 6.30 saja ya 🤣

That’s the end of my short stories about respecting people’s time.

Akhir kata, betapa indahnya hidup ketika kita bisa menghargai waktu orang lain. Kita butuh selalu ingat bahwa ketika kita terlambat, maka kita akan merugikan waktu orang lain. Dan, jangan lupa bahwa semua orang pasti sudah memiliki agenda masing-masing, sehingga akan menjadi bijak untuk kita bisa menghargai agenda orang lain, sebelum kita meminta waktu orang lain itu untuk sebuah agenda baru.

“Hargailah waktu orang lain, maka mereka akan menghargai Anda, bahkan juga waktu Anda.”

God bless you! :-)

Apakah “shortcut” adalah solusi?

Belakangan sering melihat kondisi dimana “shortcut” selalu dijadikan pilihan yang utama:

  • ingin memperoleh hasil yang besar, tapi tidak mau dengan tekun mulai dari menanam dan memupuk hal kecil yang baik, selalu menomorsatukan hasil tanpa proses.
  • ingin kurus, tapi tidak mau menjaga makan dan olahraga secara konsisten, malah beralih mengandalkan obat diet supaya cepat kurus.
  • ingin jadi pribadi yang lebih baik, tapi tidak mau mendengarkan masukan orang lain, hanya sibuk menyalahkan kondisi.
  • ingin bekerja di tempat yang high prestige, tapi tidak mau mengasah skill, malah sibuk cari koneksi supaya bisa masuk tempat kerja yang oke.
  • ingin punya bisnis dengan nilai aset yang tinggi, tapi tidak mau memulai dari usaha kecil, langsung mencoba bisnis dengan modal yang besar supaya untungnya besar.

Apakah menjalani proses untuk mendapatkan hasil baik sudah tidak relevan lagi di jaman sekarang ini?

Benyamin Franklin pernah mengatakan:

“Without continual growth and progress, such words as improvement, achievement, and success have no meaning.”

Semoga kalimat beliau sebagai founding father of the US masih relevan, jangan andalkan “shortcut”, mari berproses dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Catatan kecil mengenai Skip-Gram Modelling

Ulasan dari paper “A Closer Look at Skip-gram Modelling” oleh David Guthrie, Ben Allison, Wei Liu, Louise Guthrie, dan Yorick Wilks (2006).
http://homepages.inf.ed.ac.uk/ballison/pdf/lrec_skipgrams.pdf

Language model yang sudah dikenal dan banyak digunakan oleh peneliti adalah n-gram.  N-gram (adjacent n-gram) merupakan kumpulan dari item sejumlah n yang disusun secara berurutan dari text atau speech. Skip-gram bisa digunakan untuk menangani data sparsity yang banyak ditemui sebagai problem besar pada penelitian natural language processing.

Skip-gram merupakan teknik yang digunakan di area speech processing, dimana n-gram yang dibentuk kemudian ditambahkan juga dengan tindakan “skip” pada token-tokennya. Sebagai contohnya, apabila hendak dibentuk trigram dari kalimat “I hit the tennis ball”, maka hasilnya akan menjadi:

  1. I hit the
  2. hit the tennis
  3. the tennis ball

Akan tetapi, ada pendapat yang mengatakan bahwa ada kombinasi 3 kata dari kalimat tersebut yang penting dari kalimat tersebut, contohnya “hit the ball”. Skip-gram memungkinkan bentuk kombinasi tersebut untuk dimodelkan.

Untuk membentuk k-skip-n-grams, ada dua nilai yang harus didefinisikan, yaitu k (jumlah kata yang di-skip) dan n (banyak kata dalam n-gram, e.g. bigram (2-gram), trigram (3-gram), dll.).

Hasil dari 4-skip-n-gram akan mencakup 4 skip, 3 skip, 3 skip, 2 skip, 1 skip, dan 0 skip (n-gram jenis trakhir ini dibentuk dari adjacent words).

Apabila kita memiliki kalimat sebagai berikut:

“Penelitian membutuhkan ketekunan yang tinggi”

Maka, n-gram dan skip-gram yang terbentuk adalah sebagai berikut:

  • Bigram: {penelitian membutuhkan, membutuhkan ketekunan, ketekunan yang, yang tinggi}
  • 2-skip-bi-gram (mencakup 1-skip-bi-gram dan 0-skip-bi-gram):

0-skip-bi-gram: {Penelitian membutuhkan, membutuhkan ketekunan, ketekunan yang, yang tinggi}, 1-skip-bi-gram: {penelitian ketekunan, membutuhkan yang, ketekunan tinggi}, 2-skip-bi-gram: {penelitian yang, membutuhkan tinggi}

Skip yang dilakukan tidak diperbolehkan untuk melewati batas dari satu kalimat.

Jumlah dari skip-gram yang terbentuk dengan diketahui jumlah n pada n-gram yang hendak dibentuk bisa dihitung. Untuk sejumlah n kata pada kalimat, rumus untuk menghitung jumlah trigram dengan jumlah skip k adalah:

(n – (k+2) ) (k+1), untuk n > k+3

Secara lebih rinci, data lengkap mengenai jumlah data hasil pemodelan n-gram dan k-skip-n-gram adalah sebagai berikut:

skip-gram

Training data yang digunakan adalah British National Corpus (BNC) sejumlah 100 juta kata dan English Gigaword sejumlah 1.7 miliar kata digunakan untuk mengujicobakan pemodelan skip-gram pada data testing yang diambil dari Gigaword Corpus (300000 kata), Eight Recent New Documents, dan Google Translation (7 artikel berita di Cina dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris).

Dari 2 kali eksperimen yang membandingkan adjacent n-gram dengan k-skip-n-gram, diperoleh hasil bahwa

  1. Banyak bigram yang terobservasi ketika menggunakan skip, dan muncul di data testing
  2. Skip-gram tidak meningkatkan coverage trigram. Hal ini disebabkan karena dokumen yang digunakan bukan korpus pada domain yang sama.

Dari sisi manfaat, skip-gram bisa mendemonstrasikan secara akurat untuk memodelkan context namun tidak condong pada efek dari trigram modelling.

Seringkali memperbesar ukuran korpus bukanlah sebuah pilihan yang baik karena resource yang terbatas. Skip-gram bisa menjadi alternative untuk peningkatan ukuran training data. Skip-gram modelling lebih efektif digunakan untuk meng-cover trigram daripada memperbesar jumlah korpus untuk training.

Kekurangan dari skip-gram modelling adalah peningkatan yang besar pada processing time.

Skip-gram modelling ini dimanfaatkan oleh Google dalam menjalankan program deep learning Word2Vec untuk membentuk word representation dalam bentuk vektor.